Senin, 10 September 2018

Pendekatan Budaya Kepada Anak-Anak Melalui Komunitas Tanoker | PK LPDP

Pendekatan Budaya Kepada Anak-Anak Melalui Komunitas Tanoker | PK LPDP
Wikimedia Commons
Kamu sudah kenal dengan Sosok Farha Ciciek? Beliau merupakan aktivis perempuan dan pekerja kemanusiaan yang mendirikan komunitas Tanoker yang memfokuskan pada anak-anak melalui pendekatan budaya. Farha Ciciek lahir di Ambon tanggal 26 Juni 1963, dan masih berdarah Arab dan Jawa.

Pada saat menjadi narasumber PK-127 LPDP, bertempat di Wisma Hijau, Cimanggis. Beliau memberikan materi yang fokus pada tema "Revitalisasi Bersama Berbasis Komunitas".

Komunitas yang beliau bangun berfokus di Ledokombo (wilayah tertinggal di Jember), wilayah ini dikenal dengan suku Madura, dimana daerah yang sangat tinggi akan angka kriminalitas dan mereka sangat sulit untuk diajak maju dengan anggapan umum yaitu "Hidup ini sudah seperti takdir, mustahil untuk maju".

Komunitas ini terdiri dari anak-anak berbagai kalangan yang mengalami yatim piatu sosial, dimana mereka berasal dari keluarga buruh, petani, pedagang kecil, kerja serabutan hingga kalangan PNS.

Di awal sesi, beliau memutarkan video tentang kreativitas anak-anak Ledokombo saat mengikuti festival Ledokombo. Video tersebut memotivasi kita bahwa anak-anak yang memiliki cacat sosial juga dapat menemukan kehidupan yang bahagia sesuai versi mereka.

Farha Ciciek juga bercerita tentang sosok Jalaludin Rumi, yaitu Cinta Mahaba. Cinta Mahaba ini seperti saat kita memberikan cinta, kita akan mendapatkan balasan cinta juga.

Rasa cinta ini beliau sampaikan kepada penerima beasiswa LPDP, untuk memotivasi mereka dalam membangun komunitas sosial dan komunitas lainnya yang sangat membantu permasalahan yang ada di negeri ini.

Cinta juga akan mengingat dan menjaga betul kearifan lokal yang sudah mulai terkikis dan terlupakan, sehingga akan sangat mudah jika saat membangun komunitas dengan konsep kearifan lokal yang ada.

Selanjutnya beliau memaparkan materi mengenai bagaimana orang dewasa harusnya memberikan kepercayaan terhadap kemampuan dan keinginan positif anak-anak tersebut. Bagaimana orang tua, masyarakat, dan pemerintah harus memberikan sepenuhnya dukungan positif terhadap ketertarikan anak-anak tersebut.

Farha Ciciek juga menegaskan bahwa anak-anak akan mudah dalam menyalurkan keinginan mereka yang sederhana tetapi seringkali dilarang oleh orang tua.

Anak-anak Ledokombo memiliki motto perubahan, yaitu berproses dan melahirkan tanaker (kepompong). Motto ini dipilih sendiri oleh mereka selama 3 bulan. Anak-anak didikan beliau juga memiliki 4 Wahana nilai perubahan, yaitu Bersahabat, Bermain, Belajar, dan Berkarya.

Empat nilai itulah yang membawa anak-anak meraih banyak prestasi, tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Dengan prestasi itu, mereka dapat merasakan perjanan dengan pesawat, hidup di hotel secara gratis. Bahkan mereka diundang untuk hadir pada Hari Anak Internasional, dan diajak ke Thailand untuk memainkan permainan Engrang.

Sebelum menutup sesi penyampaikan materi, beliau memberikan kesimpulan bahwa anak-anak merupakan change maker, dimana nilai-nilai yang ditanamkan melalui praktik budaya tersebut membuat mereka bisa menciptakan perubahan pada dunia.

Beliau juga menciptakan sebuah jargon untuk mereka, yaitu "Memang Hebat dan Tidak Sombong". Jargon tersebut dimaksudkan walaupun mereka telah berhasil sekarang atau masa akan datang, mereka tidak seharusnya merasa sombong.

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Tulis komentar

Back to Top