Sabtu, 22 Desember 2018

Pengaruh Perilaku Generasi Milenial Terhadap Karakter Bangsa

Indonesia sebagai negara bangsa yang telah hidup hampir tiga perempat abad. Walaupun semua warga negara tahu bahwa bangsa ini telah lama lahir jauh sebelum itu, bisa dibilang ribuan tahun sebelumnya.

Sayangnya juga sampai saat ini karakter bangsa yang dulunya melekat sudah mulai menghilang seiring kemajuan generasi dan teknologi yang berkembang pesat seperti saat ini.

Karakter masyarakat yang dikenal dengan tatakramanya yang sopan-santun antar sesama, suka menolong, empati, toleransi dalam perbedaan dan yang selalu mengedepankan pemikiran logis dalam menyikapi persoalan seakan-akan makin lama makin hilang diterpa badai. Begitu juga pemahaman dan pola pikir masyarakat sudah mulai dipertanyakan.

Reformasi sebagai titik tolak sebuah demokrasi yang mengedepankan penguatan hukum, kebebasan demokrasi yang bertanggungjawab sudah disalahgunakan. Masyarakat hanya fokus dengan kebebasan demokrasi tanpa mengetahui batasan dan etika dalam bertindak.

Masyarakat lupa bahwa bangsa ini sejak awal hidup tanpa teknologi. Kita lihat saat ini, kemajuan teknologi menyebabkan transisi antara kesibukan nyata manusia dengan kesibukan maya yang sekarang kita rasakan dampaknya.

Sebagai contoh, jika masyarakat terdahulu perlu mengundang warga ketiap rumah hanya untuk menghadiri rapat, sangat berbeda dengan pemuda saat ini, terutama di kota-kota besar cukup hanya dengan himbauan dan ajakan dari media sosial mereka terorganisir untuk bergerak. Memang tidak perlu terkejut ketika melihat banyak dari pemuda percaya dengan berita dusta dari kesimpang siuran berita sosial medial.

Hal ini berhubungan dengan perilaku generasi Y yang lahir tahun (1981 – 1994), yang sering juga disebut dengan generasi millineal, yang kini generasi ini membanjiri dunia kerja dan ranah sosial media.

Secara pemikiran, mereka lebih terbuka ketimbang generasi sebelumnya. Generasi ini dalam kehidupannya sering berhubungan erat dengan media sosial dan sangat terpengaruh dengan kemajuan teknologi.

Seiring dengan derasnya informasi, hal ini mempengaruhi perilaku pemuda generasi millineal. Berkembangnya teknologi yang seharusnya mampu mengantarkan mereka pada tingkat pola pikir yang kritis dan jenius serta membawa kesejahteraan yang lebih tinggi, tetapi teknologi membuat mereka terlena dan masuk kedalam dunia maya dengan prilaku yang kontraproduktif.

Perilaku ini diantaranya, pertama, tatakrama dalam berbicara. berbagai berita di media sosial, jika kita lihat di kolom komentar netizen, banyak komentar yang saling mencaci maki antar sesama, tanggapan yang negatif dan sadis menjadi kebiasaan dan memenuhi kolom komentar di setiap berita online yang ada.

Kedua, tidak memiliki malu. Banyak generasi sekarang yang suka pamer aurat tanpa merasa malu, bahkan live. Ditambah dengan kemajuan teknologi, misalnya dengan adanya instagram, mereka tidak merasa malu sekalipun memamerkan detail tubuhnya yang dapat diakses oleh siapapun tanpa batasan yang dinikmati oleh para pria dewasa.

Ketiga, generasi Y terjebak dalam aktivitas yang menghabiskan waktu dengan minim produktifitas. Mereka kebanyakan terlalu sibuk bermain media sosial yang belum tentu membawa manfaat.

Keempat, banyak generasi yang menjadi profesi “hoax-er”. Dimana profesi baru ini sudah tidak asing lagi. Banyaknya informasi bohong dan hoax banyak tersebar yang dikemas secara apik. Dengan bumbu-bumbu data atau potongan data yang seolah ilmiah, ditambah gaya penulisan yang intelek, foto pendukung yang pas, jadilah informasi hoax layaknya fakta nan superseru.

Kelima, generasi sekarang sedikit sekali yang melakukan tabayyun sebelum menyebarkan informasi. Tabayyun sendiri adalah memeriksa secara benar dan teliti informasi yang diterima sehingga penyikapan terhadap informasi yang didapat maupun yang akan disebarkan tidak menimbulkan imbas merugikan apalagi menyakiti perasaan orang lain.

Hal ini sangat perlu penyikapan yang dewasa dan bijaksana terhadap informasi dengan tabayyun terlebih dahulu.

Begitu juga, jurnalis selaku pengolah informasi, yang bekerja dengan panduan kode etik, sampai saat ini belum merdeka. Para jurnalis dituntut untuk terus menjaga integritasnya. Bagaimanapun pesatnya informasi, termasuk dengan banyaknya netizen dengan pro-kontranya, jurnalis tetap menjaga kode etik yang ada. Inilah yang membedakan jurnalis dengan tukang gosip.

Jika kita tahu, beberapa pemimpin sekarang, walaupun mereka merupakan generasi X (lahir tahun 1965 – 1980), dengan kemajuan teknologi sekarang, mereka tidak terjebak dalam dunia maya yang ada. Bahkan mereka memanfaatkan media sosial untuk menjadi media publikasi capaian programnya sebagai pemimpin.

Sebagai contoh, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Beliau begitu piawai dalam memanfaatkan media sosial untuk mempublikasikan capaian prestasi dan kinerja positifnya. Sehingga beliau ini menjadi figur pemimpin, yang memanfaatkan teknologi dengan positif.

Ridwan Kamil mengatakan dalam beberapa forum, bahwa dunia saat ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Dengan kemajuan teknologi yang ada, dunia semakin berbahaya. Dunia semakin sempit dan terkoneksi. Sehingga diperlukan pribadi-pribadi yang tidak hanya sekedar pintar, tetapi juga berkepribadian yang mampu memberikan kontribusi dan juga mampu bekerja secara multitasking.

Begitu juga Ridwan Kamil berpesan, jika generasi sekarang ingin survive dan unggul dalam berbagai bidang, setidaknya memiliki lima karakter.

Baca Juga:
Kisah Sukses Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat Terpilih
Bangga Menjadi Orang Indonesia Bersama Ridwan Kamil | PK LPDP

Pertama, man of value, generasi sekarang harus menjadi orang baik dimana saja. Dimanapun selalu memberikan value dalam setiap tindakannya.

Kedua, menjadi change of maker, menjadi pelaku perubahan. Setiap perilaku dan tindakannya selalu memberikan kontribusi dan memberikan perubahan positif yang bermanfaat bagi orang lain.

Ketiga, risk taker, berani mengambil risiko. Semakin tinggi kedudukan kita, jika ingin berbuat lebih banyak manfaat dan kontribusi, yang pasti cobaan dan rintangan semakin besar, generasi ini harus berani ambil resiko jika ingin unggul.

Keempat, harus selalu melakukan inovasi, inovasi diberbagai lini. Semakin majunya teknologi, generasi sekarang dituntut untuk memberikan solusi yang bernilai inovasi. Sekarang sudah mulai banyak para entrepreneur dengan berbagai inovasinya.

Bahkan perusahaan sekalipun, jika tidak melakukan inovasi, maka perusahaan itu akan bangkrut karena kalah bersaing dengan perusahaan baru yang berdiri dengan inovasi yang sesuai perkembangan teknologi.

Kelima, memiliki keberanian dan tekad kuat. Apapun rintangan dan masalah yang dihadapi, selalu maju dan hadapi, jangan sampah menyerah.

Baca Juga:
Pendekatan Budaya Kepada Anak-Anak Melalui Komunitas Tanoker | PK LPDP
Wawasan Kebangsaan Bersama Yudi Latief
Persaingan di Era Globalisasi | PK LPDP

Sehingga dimasa sekarang, pemudah harus menjadikan teknologi yang bijak dan bijaksana. Teknologi bagi pemuda sekarang bukan hanya bermakna teknologi yang hanya sebatas barang elektronika saja, namun dalam porsi yang seimbang dan selaras dengan kebutuhan masyarakat sekarang.


Kisah Sukses Ridwan Kamil | Pemuda sekarang harus menciptakan sebuah terobosan yang membantu masyarakat, contoh dalam bidang pertanian , cukuplah membuat teknologi yang memudahkan dan memberikan efisiensi kerja dalam segala bentuk kesukaran tentang pertanian. Dan juga bagaimana membuat ikan-ikan di tambak lebih gemuk dan sehat serta lebih cepat dipanen. Ketika sudah panen, pemuda menjadikan teknologi terutama media sosial sebagai media pemasaran terhadap hasil panen masyarakat.

Teknologi semacam ini harus ditekuni dan dikembangkan dengan masa depan bangsa. Bukan menjadikan teknologi yang membabi buta, merugikan orang lain dan merusak negeri ini.

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Tulis komentar

Back to Top