Senin, 07 Januari 2019

Cara Memilih Proyek Riset dan Tempat Studi

Prof. Sangkot Marzuki saat ini menduduki jabatan sebagai Ketua Akadaemi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Lahir pada tanggal 2 Maret 1944, ia juga menjabat sebagai Direktur pendiri lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Pada tahun 1964, ia memperoleh gelar Sarjana diperolehnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Meskipun mengambil jurusan kedokteran, ia bercita-cita menjadi ilmuwan. 

Hal ini yang mendorongnya untuk mengambil program Magister di Mahidol University, Thailand dan melanjutkan program doktoral di Monash University, Australia dan menyelesaikannya pada tahun 1976.

Saat ia mengambil program doktoralnya. Ia pernah bergabung dalam penelitian semacam lipi yaitu membahas tentang ATP, yaitu satuan energi dalam suatu sel yang disintesis sejumlah berat badan manusia agar dapat berkativitas normal setiap harinya.

Cara Memilih Proyek Riset dan Tempat Studi

Ia meneliti bagaimana proses sintesis energi tersebut melalui membran. Hasil penelitiannya berlanjut ketika beliau membentuk grup riset yang membahas pengaruh mutasi DNA terhadap pasien. Adapun paper yang penelitiannya dirangkum dalam jurnal yang berjudul Seminal Period of Mithocondrial yang dipublikasikan pada tahun 1985.


Dari pengalaman tersebut, ia menekankan 3 hal penting ketika seseorang akan melanjutkan studinya sebagai ilmuwan, yaitu

1. Cara memilih proyek riset dan tempat studi, apakah berdasarkan scientific excellence atau direct relevance.

2. Berapa lama studi yang diperlukan dalam menyelesaikan riset tersebut

3. Manakah prioritas utama, jurnal publikasi atau tesis

Dalam memilih proyek riset, beliau berpendapat bahwa kebanyakan orang Indonesia memilih direct relevance daripada scienctific excellence. Adapun waktu penyelesaian riset relatif berbeda, bergantung prioritas yang dipilih mahasiswa, apakah jurnal publikasi atau tesis. 

Ketika memilih jurnal publikasi, mahasiswa dan pembimbing memiliki tanggung jawab bersama terhadap penelitian yang telah mereka lakukan karena jurnal merupakan properti intelektual. 

Oleh karena itu, pembimbing dapat membantu mahasiswanya dalam mengkoreksi penulisan yang dilakukan mahasiswanya. Berbeda ketika memilih tesis, pembimbing tidak memiliki tanggung jawab bersama terhadap mahasiswanya, tetapi masih dapat tetap membimbing dalam penelitian yang dilakukan dalam tesis tersebut.

Salah satu hal penting juga yaitu kultur saintifik yang unggul.

Baca Juga:
Profil Dino Patti Jalal, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia
Tips dan Trik Paling Jitu Lolos Beasiswa LPDP
5 Cara Mudah Mendapatkan Beasiswa

Seperti dicontohkan oleh Youyou Tu, ilmuwan asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang memperoleh penghargaan Nobel pada tahun 2015 atas usahanya dalam menemukan obat anti-malaria. 

Usaha penemuan ini diawali oleh perintah Mao Zedong, Presiden RRT saat itu yang meminta Youyou untuk melakukan penelitian dengan kode Project 523. Obat ini ditemukan setelah ia membaca 2000 buku dan meramu 380 obat-obatan herbal serta menuliskannya dalam suatu buku catatan berjudul A Collection of Single Practical Prescriptions for Anti-Malaria. 

Kemudian, ia mencoba membuat ramuan dari tanaman qinhaosu berdasarkan tulisan yang berumur 1600 tahun, kemudian mencoba memodifikasi dengan penerapan ilmu sains dalam proses tersebut. Prosedur saintifik dalam mengekstraksi sari tanaman tersebut inilah yang membuat ia memperoleh penghargaan Nobel.

Sehubungan dengan konteks pengembangan sains di Indonesia, Profesor Sangkot memaparkan data bahwa Indonesia tidak memiliki dana alokasi khusus pada pengembangan sains dan teknologi, tidak memiliki pembiayaan penelitian dasar serta memiliki Human Development Index terburuk. 

Hal ini menunjukkan bahwa usaha dalam membentuk sains sebagai pola pikir dan budaya masih perlu dilakukan dalam waktu yang cukup panjang. 

Adapun hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu

1. Demokrasi yang masih muda

2. Keberagaman budaya

3. Pengaruh perkembangan ekonomi

4. Megabiodiversitas

5. Perubahan ekologi

6. Masyarakat agricultural

7. Pengurangan sumber daya fosil

8. Pengaruh ring of fire

9. Potensi lautan yang belum digali

Inovasi di bidang ini hanya bisa berjalan jika ada pendukung yang tepat dan kebijakan dari pemerintah. Sehingga penanaman budaya saintifik yang berkelanjutan perlu ditanamkan dalam pendidikan.

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Tulis komentar

Back to Top