Sabtu, 12 Januari 2019

Kisah Inspiratif Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Siapa yang tidak kenal dengan Chairul Tanjung, ia merupakan seorang pengusaha yang agresif, memperluas bisnisnya ke semua bidang, dari bank dengan spanduk Bank Mega Group, Trans TV dan Trans 7, hotel dengan bendera Trans, di sektor supermarket, CT (nama panggilan dari Chairul Tanjung) untuk mengakuisisi Carrefour, pesawat Vuele, ke bisnis hiburan TRANS STUDIO, dan perusahaan lain.

Dapat dikatakan bahwa kisah hidup seorang CT kecil, terlahir dari sebuah keluarga yang cukup berada pada saat itu. Dia memiliki enam saudara. Ayahnya, A.G. Tanjung, adalah seorang mantan jurnalis di era Orde Lama dan telah menerbitkan sebuah surat kabar dengan sedikit sirkulasi. Namun, ketika ada perubahan di era pemerintahan, bisnis ayahnya ditutup karena ayahnya memiliki pemikiran yang bertentangan dengan otoritas politik pada waktu itu. Situasi ini memaksa orang tuanya untuk menjual rumah dan harus rela menjalani kehidupan yang sulit. Kemudian mereka menyewa kontrakan dengan kamar sempit.

Dengan kondisi ekonomi yang sulit membuat orang tuanya tidak mampu membayar uang kuliah Chairul, saat itu sebesar Rp. 75.000.

"Pada tahun 1981 saya diterima di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI). Uang ini dan itu jika ditotal jumlahnya adalah Rp75.000."

Kisah Sukses Chairul Tanjung Si Anak Singkong


Suatu waktu, tanpa sepengetahuan CT, ibunya diam-diam menjanjikan kain halusnya di pegadaian untuk membayar uang kuliahnya. Melihat pengorbanan sang ibu, Ia berjanji untuk tidak terus menjadi beban bagi orang tua, karena itu, dia tidak akan meminta orang tuanya jika berhubungan dengan uang, dia bertekad untuk menemukan cara untuk mencari nafkah dan belajar.

Chairul Tanjung merupakan pria kelahiran Jakarta, pada 18 Juni 1962, awal mula ia sukses menjadi pengusaha dimulai dengan bisnis kecil. 

Ia berkolaborasi dengan pemilik mesin fotokopi dan menempatkannya di lokasi yang strategis tepatnya di bawah tangga kampus. Ia mulai melakukan penjualan buku-buku kuliah, T-shirt, sepatu dan barang-barang lainnya di kampus. Dari penghasilan itu, ia mendapat modal dan berhasil membuka toko peralatan medis dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayangnya, karena sifat sosialnya, yang sering memberikan fasilitas kepada rekan-rekan kuliah, bisnisnya bangkrut.

Memang kala itu adalah jalan terjal yang harus ditempuh Chairul Tanjung sebelum menjadi orang sukses seperti sekarang. Pengalamannya dalam membangun jaringan membuat lancar urusan bisnisnya. 

Baca juga:

Bagi CT, salah satu kunci keberhasilannya adalah tidak setengah-setengah ketika harus memulai/melangkah. Menurut Chairul, bekas gedung Fakultas Kedokteran UI belum menggunakan lift. Saya masih menggunakan tangga dari lantai satu ke lantai empat. Melalui ruang kosong di bawah tangga ini, Chairul Muda melihat peluang yang bisa ia gunakan untuk mendapatkan uang.

Menurut CT, sebuah peluang untuk menjadikan ruang kosong itu sebagai usaha percetakan. Waktu itu ia tidak memiliki mesin percetakan kemudian CT mencari akal mencari sponsor untuk menyediakan mesin tersebut dan membayar sewa. Saat itu ia hanya menerima gaji dari bisnis percetakan sebesar Rp 2,5 per lembar. 
Mungkin itu sedikit, tetapi karena tempatnya strategis dan usaha percetakan merupakan hal yang menarik mahasiswa, sehingga penghasilan CT cukup besar.

Tidak hanya itu, ia terus berusaha untuk menyempurnakan keterampilan bisnisnya. Bisnis lain ia coba, seperti bisnis stiker, pembuatan t-shirt, pembuatan buku universitas dan penjualan buku bekas. 

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Chairul memberanikan diri untuk menyewa kios di daerah Senen, di pusat Jakarta, dengan harga sewa Rp1 juta per tahun. Dia menggunakan kios kecil untuk membuka CV yang didedikasikan untuk penjualan peralatan gigi. Sayangnya, bisnis itu tidak bertahan lama karena kios tempat bisnis itu sering digunakan sebagai tempat pertemuan para aktivis lain. Kebanyakan yang nongkrong ketimbang yang membeli sehingga membuat bisnis itu bangkrut.

Setelah beberapa tahun, ia mencoba bangkit dan bergerak lagi dengan dua temannya untuk mendirikan PT Pariarti Shindutama yang memproduksi sepatu. Dia menerima pinjaman ringan dari Bank Exim dengan jumlah Rp150 juta. Pengalamannya membangun jaringan bisnis membuat sepatu produksinya menerima pesanan hingga 160.000 pasang dari pengusaha Italia.

Bisnis CT terus berkembang. Ia mulai mencoba menjelajahi industri genting, sandal dan properti. Namun, di tengah upaya pendakiannya, tiba-tiba ia memiliki visi/tujuan yang berbeda dengan kedua rekannya. Ia juga memutuskan untuk mengundurkan diri dan menjalankan bisnisnya sendiri. Tidak dijamin, seseorang yang memiliki karier profesional sesuai dengan pelatihan akademiknya akan berhasil. Kenyataannya adalah bahwa tidak sedikit yang berhasil setelah mereka menyimpang dari jalur.

"Modal dalam bisnis itu penting, tetapi mendapatkan mitra yang dapat diandalkan adalah segalanya." 

Membangun kepercayaan sama dengan menciptakan integritas dalam manajemen sebuah perusahaan, kata Presiden Tanjung, yang lebih memilih menjadi wirausaha daripada dokter gigi biasa. 

Dengan pilihannya untuk menjadi wirausaha menempatkan CT sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, dengan total aset yang mencapai 450 juta dolar AS. Suatu prestasi yang tidak pernah bisa dia bayangkan ketika memulai usaha kecil, untuk mendapatkan biaya kuliah, saat kuliah di UI tempo dulu.

Itulah yang bisa membuat Chairul Tanjung selalu tampil seadanya, tanpa kesan ingin menunjukkan kesuksesannya. Selain itu, ia juga tidak melupakan masa lalunya. Karena itu, ia kini rela melakukan berbagai kegiatan sosial. Dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Dewan Pembina Universitas Indonesia dan sebagainya. 

Sekarang, Chairul Tanjung menghabiskan lebih dari 50% waktu saya dalam kegiatan sosial masyarakat.

Sekarang Grup Para memiliki kerajaan bisnis yang didasarkan pada tiga bisnis utama. Pertama yaitu layanan keuangan seperti Bank Mega, Asuransi Umum Mega, Aanya, khususnya bisnis televisi, TransTV. Dalam bisnis televisi ini, juga diketahui bahwa ia telah berhasil mengakuisisi televisi yang hampir bangkrut, dan sekarang ia telah berhasil mengubahnya menjadi Trans7, yang juga cukup sukses.

Langkah selanjutnya dari ekspansi adalah membangun usaha patungan dengan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk membentuk taman wisata terbesar "TRANS STUDIO" di Makassar, untuk menyaingi keberadaan Universal Studios di Singapura. Taman hiburan terbesar di Indonesia, bahkan sekarang, telah merambah kota Bandung dan segera ke kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Chairul adalah salah satu dari tujuh orang kaya di Indonesia. Ia juga satu-satunya pengusaha pribumi yang masuk jajaran orang terkaya di dunia. Enam perwakilan Indonesia lainnya adalah Michael Hartono, Budi Hartono, Martua Sitorus, Peter Sondakh, Sukanto Tanoto dan Low Tuck Kwong. 

Berkat kesuksesannya, Majalah Warta Ekonomi memberikan penghargaan Pria Berdarah Minang / Padang sebagai salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh pada tahun 2005 dan dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia pada tahun 2010 oleh majalah Forbes dengan total kekayaan $1 miliar

Show comments
Hide comments
2 komentar:
Tulis komentar
  1. nahhh, ini salah satu buku motivasi kesukaan saya nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe emang bagus si bukunya gan. Inspirasi banget

      Hapus

Back to Top