Bisnis Usaha Sepeda Kayu (Singgih Susilo Kartono)

Selasa, 16 Juni 2020 : Juni 16, 2020

0 komentar

Bisnis Usaha Sepeda Kayu (Singgih Susilo Kartono)

Bisnis Usaha Sepeda Kayu - Materi ini disampaikan oleh Singgih Susilo Kartono pada acara Persiapan Keberangkatan LPDP. Beliau lahir di Temanggung, Jawa Tengah, 1 April 1968yang merupakan seorang desainer produk dan entrepreneur berkebangsaan Indonesia. Singgih lulus dari ITB pada tahun 1994 dari jurusan desain ITB, lalu kembali ke desanya setelah lulus.

Namanya dikenal secara luas melalui kiprahnya mendirikan Pasar Papringan Ngadiprono, sebuah pasar tradisional unik dengan memberdayakan masyarakat setempat. Keberadaan pasar ini mengantarkan nama Singgih menerima penghargaan Kick Andy Heros tahun 2019. Selain itu, Singgih juga dikenal dengan usaha rintisannya yang mendunia antara lain sepeda kayu dan radio kayu yang produksinya didukung oleh Rachmat Gobel, CEO National Gobel Group.

Diawal presentasi, Pak Singgih menceritakan bahwa beliau memutuskan untuk pulang kampung ke Temanggung setelah lulus dari ITB dan sempat meniti karir professional dari mulai lulus hingga tahun 2005. Semua itu didasari sebuah filosofi bahwa masa depan itu ada di desa. Beliau menginisiasi gerakan revitalisasi desa tanpa merubah struktur desa.

Pada awal kepulangannya ke desa, dia bercerita bahwa itu dilakukan dengan sedikit nekat. Dia pulang tanpa membawa uang dan tinggal menumpang bersama orang tuanya dengan membawa anak istrinya. Pahit getir kehidupan dia alami di awal-awal perjuangannya merintis langkah untuk membangun desanya.

Beliau sempat aktif terlibat dalam kepenguran birokrasi desa melalui BPD. Namun, beliau memutuskan untuk keluar setelah beberapa waktu karena merasa tidak bisa optimal dalam membangun desanya. Dia memilih jalan lain untuk membangun desa melalui kegiatan-kegiatan yang dia rintis yang di kemudian hari memberikan hasil yang membanggakan.

Dengan modal latar belakang teknis dari ITB, beliau mencoba mengembangkan usaha kerajinan yang pada masa awal-awal kepindahannya ke kampung banyak diremehkan. Pada akhirnya, usaha kerajinan yang dikenal dengan Mago Radio itu akhirnya dikenal luas oleh publik. Bahkan, banyak adik kelasnya di ITB yang kemudia mengambil konsenstrasi studi tentang kerajinan dan sering melakukan kunjungan ke tempatnya di Temanggung.

Pak Singgih juga memiliki alasan menarik dibalik kenapa pada akhirnya beliau memilih kerajinan kayu sebagai media untuk memberdayakan masyarakat desa. Selain membuat dan memasarkan kayu, beliau juga ingin karya-karyanya tersebut merupakan sarana untuk menyampaikan pesan-pesan pemberdayaan yang hendak dia sampaikan.

Menurut beliau, pemilihan kayu tidak semata karena material tersebut mudah ditemukan di desanya. Lebih jauh dari itu, kayu juga merupakan simbolisasi dari 3 unsur yaitu Life karena kayu tumbuh dari biji untuk kemudian menjadi pohon yang sangat kuat, balance karena kayu menggambarkan keseimbangan, dan limit.

Pesan penting yang hendak Pak Singgih sampaikan adalah pemberdayaan desa bisa dilakukan tanpa harus merusak ekosistem dan lingkungan desa. Manusia harus menjaga alam dengan cara membantu alam agar tetap lestari. Beliau percaya bahwa pemberdayaan desa bisa dilakukan dengan tetap memperhatikan keseimbangan alam. “Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita.” Ujarnya

Merintis Usaha Sepeda Kayu

Setelah Pak Singgih sukses dengan Mago Radio yang mendapatkan penghargaaan dari banyak kalangan, beliau merintis usaha Sepeda Kayu yang bernama ‘Spedogi’. Semua ini bermula dari pengalamannya melihat sepeda-sepeda kayu yang mulai menggeliat di beberapa negara, dan dia terinspirasi untuk membuat sepeda kayu dengan menggunakan sumber daya yang tersedia di desanya. Beliau melihat, pohon kayu/bambu sangat mudah ditemukan di desanya, dan bisa menjadi komoditas penting untuk memberdayakan masyarakat. Singgih ingin membuktikan bahwa lokalitas bisa membawa originalitas.

Di negara maju, banyak orang bermimpi untuk memiliki sepeda kayu karena harganya mahal. Di Indonesia, material kayu/bambu mudah untuk ditemukan. Harga sepeda yang dibuat berkisar antara 9-12 juta dengan harga rangka bambunya sekitar 3 juta. Sepeda bambunya juga diakui dunia internasional dan mendapatkan pengakuan dan lolos uji laik pakai dari Negara Jepang. Beliau percaya bahwa masih banyak produk yang bisa dihasilkan desa, yang apabila digarap serius dapat menghasilkan produk yang bagus dan mendunia, seperti Spedogi miliknya.

Kenapa Harus Pulang ke Desa?

Pada bagian berikutnya, Pak Singgih banyak bercerita tentang keputusannya pindah ke desa, dan apa yang perlu dipersiapkan jika anak-anak muda juga ingin pulang kampung ke desa. Indonesia adalah negara dengan jumlah desa terbesar ke dua di dunia setelah India. Indonesia memiliki 74,954 desa yang menunggu tangan-tangan generasi muda untuk diberdayakan.

Kembalinya para orang-orang terpelajar ke desa juga bisa menjadi jawaban atas problem di desa, yaitu hilangnya para pemikir. Desa tidak bisa maju karena kehilangan SDM berkualitas untuk memajukan desanya. Di satu sisi, desa adalah potensi, tapi di sisi lain, desa juga oleh perkembangan zaman dan serbuan kapitalisme. Jika dimanfaatkan dan diberdayakan, desa bisa menjadi masa depan Indonesia.
Share this Article
< Previous Article
Next Article >

0 komentar :

© 2020 Hailogue ID - All Rights Reserved